Rukun Islam
Rukun Islam ada lima, yaitu:- Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Nabi Muhammad Sholalloohu‘Alayhi wa Sallam adalah utusanNya.
- Mendirikan sholat (lima waktu).
- Menunaikan zakat.
- Puasa Ramadhan.
- Ibadah haji ke baitullah bagi yang mampu melaksanakannya.
Seseorang disebut muslim dan beragama islam jika dia melakukan pengakuan lisan dengan mengucapkan kalimat syahadat selanjutnya mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan haji bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Dari sahadat tauhid lahirlah ilmu kalam/tauhid. Dari syahadat rosul lahirlah ilmu syariat dan fiqih.
Dari sahadat tauhid lahirlah ilmu kalam/tauhid. Dari syahadat rosul lahirlah ilmu syariat dan fiqih.
Rukun Iman
Rukun iman ada enam, yaitu:- Beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.
- Beriman kepada Mala’ikat
- Beriman dengan semua kitab-kitab suci.
- Beriman dengan semua Rasul.
- Beriman dengan hari kiamat.
- Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.
Iman kepada Allah caranya dengan meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna dan mempunyai semua kesempurnaan.
Iman kepada malaikat adalah dengan mengitiqodkan bahwa para malaikat adalah jisim dari cahaya yang halus dan bukan laki-laki atau perempuan.
Malaikat yang wajib
dihafal namanya ada 10, yaitu:
Iman kepada kitab,
1.
Jibril as. à menyampaikan wahyu.
2.
Mikail as. à mengatur hujan dan rizqi.
3.
Israfil as. à meniup sangkala.
4.
Izrail as. à mencabut nyawa.
5.
Raqib as. à mencatat perbuatan baik.
6.
'Atid
as. à
mencatat perbuatan buruk.
7.
Munkar
as. à
menanyai di alam qubur.
8.
Nakir as. à menanyai di alam qubur.
9.
Ridhwan as. à menjaga pintu surga.
10.
Malik
as. à
menjaga pintu neraka.
Kita
harus percaya kepada kebenaran kitab-kitab Allah, baik keberadaannya maupun
isinya. Dan juga
shuhuf atau shahifah, yaitu lembaran-lembaran suci yang berisi Kalamullah yang diturunkan kepada beberapa Nabi.
Kitab Allah itu
ada 4, yaitu:
1.
Taurah à N. Musa
as.
2.
Zabur à N. Dawud
as.
3.
Injil à N. 'Isa
as.
4.
Qur`an à N. Muhammad saaw.
Shahifah:
-
60 shuhuf
kepada N. Syits
as.
-
30 shuhuf
kepada N. Ibrahim
as.
-
10
shuhuf kepada N. Musa as. (sebelum taurah
diturunkan)
-
30
shuhuf kepada N. Idris (menurut suatu pendapat)
Iman Kepada Rosul. Para Rasul yang wajib kita imani ada 25
Di bawah ini nama 25 Nabi dan Rasul yang harus diketahui, yaitu yang disebut di dalam Qur`an.
Di bawah ini nama 25 Nabi dan Rasul yang harus diketahui, yaitu yang disebut di dalam Qur`an.
1.
Adam
2.
Idris (Maryam:
56-57; Al Anbiya`: 85-86)
3.
Nuh (Hud:
25)
4.
Hud (Hud:
50)
5.
Shalih (Hud:
61)
6.
Ibrahim (Al An'am:
76-79 Shad: 45)
7.
Luth (Al 'Ankabut: 28)
8.
Isma'il (Ash Shaffat: 182)
9.
Ishaq (Hud:
71)
10.
Ya'qub (Al Baqarah: 133)
11.
Yusuf (Yusuf:
4-5)
12.
Ayyub (Shaad:
41-44)
13.
Syu'aib (Al A'raf:
85)
14.
Harun (Al Qashash: 34)
15.
Musa (Al Qashash: 30)
16.
Ilyasa' (Al An'am:
86)
17.
Dzulkifli (Al
Anbiya:85-86)
18.
Dawud (Al Isra`:
55)
19.
Sulaiman (An Naml:
16)
20.
Ilyas (Ash Shaffat: 123-126)
21.
Yunus (Al
Anbiya`:87-88)
22.
Zakariya (Maryam:
4-6)
23.
Yahya (Maryam:
12-13)
24.
'Isa (Maryam:
30-34)
25.
Muhammad
Beriman kepada hari akhir dan semua rangkaian yang berkaitan dengan hari akhir seperti misalnya alam kubur, (padang) mahsyar, (jembatan) shirath, mizan (timbangan), syafa'at
(Rasulullah SAW), (telaga) kautsar, surga, dan neraka.
Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
Percaya kepada qadha dan qadar adalah mempercayai bahwa segala yang berlaku
berupa kebaikan atau keburukan adalah ketentuan Allah semata-mata.
Qadha adalah penentuan Allah yang tidak bisa berubah kepada makhlukNya berupa kebaikan atau keburukan sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan dari kebijaksanaa-Nya yang tanpa batas dan ilmu Nya yang Maha Tinggi. Sebagai contoh, Allah menetapkan bahwa di dalam air itu terdapat zat Oksigen dan Hidrogen. Hakikat ini tidak dapat dirubah sampai kapanpun.
Begitu pula Allah menetapkan mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar dan fungsi ini tidak bisa berubah sampai kapanpun. Allah menetapkan setiap yang hidup pasti akan mati dan tidak ada seorangpun yang bisa merubah kenyataan ini. Semua ini tidak dapat dirubah oleh siapapun sebab semuanya ini adalah ketetapan Allah sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas.
Qadar adalah perkara yang diciptakan Allah sesuai dengan kehendak dan pengetahuan-Nya, kemudian ditetapkan dalam azali atau zaman yang tidak bermula.
Allah telah mentakdirkan semua perbuatan manusia baik berupa pilihannya sendiri atau sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Dan Allah tidak memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Maka dari itu semua kelakuan dan tindak tanduk manusia sehari hari bisa berubah dan manusialah yang merubahnya.
Kesimpulannya, bahwa Allah tidak pernah memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Allah berfirman: ” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaaf, 29)
Telah diketahi bahwa semua yang menyangkut dengan urusan manusia telah tertulis di di Lauhil Mahfudh dan ini merupakan takdir dari Allah. Tapi takdir ini boleh berubah dari masa ke masa, contohnya , jika usia seseorang telah tertulis di Lauhil Mahfudh 60 tahun, tapi ia sering melakukan silaturahim kepada keluarganya dan sesama manusia, maka dengan kehendak Allah mungkin menambah usianya melebihi 60 tahun. Allah berfirman: ” Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umul kitab (Lauhilmahfuz).” (Ar-Ra’du, 39)
Di samping silaturahim yang bisa merubah takdir usia manusia menjadi lebih panjang, do’a juga bisa merubah takdir Allah yang telah ditulis di Lauhil Mahfudh, semua ini bisa berubah dengan kehendak Allah dan kebijaksanaa-Nya yang Luas. Makanya kita dianjurkan berdo’a dalam nishfu Sya’ban: “Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia, maka tetaplah aku di dalam keadaan itu. Sebaliknya jika Engkau telah mentakdirkan aku di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, maka hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan.”
Kita sebagai muslim wajib percaya dan meyakini dengan keyakinan yang teguh bahwa semua yang berlaku berupa kebaikan atau keburukan adalah ketentuan Allah semata-mata. Rasulallah saw bersabda “Tidak beriman seseorang kecuali ia mengimani empat perkara, menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah, mempercayai bahwa aku adalah Rasulallah diutus dengan kebenaran, mengimanai dengan hari kebangkitan setelah kematian, dan mempercayai takdir Allah berupa kebaikan atau keburukan, manis dan pahit.” Dan kita wajib pula ridho dan ikhlas dengan ketentuan Allah. .
Qadha adalah penentuan Allah yang tidak bisa berubah kepada makhlukNya berupa kebaikan atau keburukan sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan dari kebijaksanaa-Nya yang tanpa batas dan ilmu Nya yang Maha Tinggi. Sebagai contoh, Allah menetapkan bahwa di dalam air itu terdapat zat Oksigen dan Hidrogen. Hakikat ini tidak dapat dirubah sampai kapanpun.
Begitu pula Allah menetapkan mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar dan fungsi ini tidak bisa berubah sampai kapanpun. Allah menetapkan setiap yang hidup pasti akan mati dan tidak ada seorangpun yang bisa merubah kenyataan ini. Semua ini tidak dapat dirubah oleh siapapun sebab semuanya ini adalah ketetapan Allah sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas.
Qadar adalah perkara yang diciptakan Allah sesuai dengan kehendak dan pengetahuan-Nya, kemudian ditetapkan dalam azali atau zaman yang tidak bermula.
Allah telah mentakdirkan semua perbuatan manusia baik berupa pilihannya sendiri atau sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Dan Allah tidak memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Maka dari itu semua kelakuan dan tindak tanduk manusia sehari hari bisa berubah dan manusialah yang merubahnya.
Kesimpulannya, bahwa Allah tidak pernah memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Allah berfirman: ” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaaf, 29)
Telah diketahi bahwa semua yang menyangkut dengan urusan manusia telah tertulis di di Lauhil Mahfudh dan ini merupakan takdir dari Allah. Tapi takdir ini boleh berubah dari masa ke masa, contohnya , jika usia seseorang telah tertulis di Lauhil Mahfudh 60 tahun, tapi ia sering melakukan silaturahim kepada keluarganya dan sesama manusia, maka dengan kehendak Allah mungkin menambah usianya melebihi 60 tahun. Allah berfirman: ” Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umul kitab (Lauhilmahfuz).” (Ar-Ra’du, 39)
Di samping silaturahim yang bisa merubah takdir usia manusia menjadi lebih panjang, do’a juga bisa merubah takdir Allah yang telah ditulis di Lauhil Mahfudh, semua ini bisa berubah dengan kehendak Allah dan kebijaksanaa-Nya yang Luas. Makanya kita dianjurkan berdo’a dalam nishfu Sya’ban: “Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia, maka tetaplah aku di dalam keadaan itu. Sebaliknya jika Engkau telah mentakdirkan aku di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, maka hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan.”
Kita sebagai muslim wajib percaya dan meyakini dengan keyakinan yang teguh bahwa semua yang berlaku berupa kebaikan atau keburukan adalah ketentuan Allah semata-mata. Rasulallah saw bersabda “Tidak beriman seseorang kecuali ia mengimani empat perkara, menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah, mempercayai bahwa aku adalah Rasulallah diutus dengan kebenaran, mengimanai dengan hari kebangkitan setelah kematian, dan mempercayai takdir Allah berupa kebaikan atau keburukan, manis dan pahit.” Dan kita wajib pula ridho dan ikhlas dengan ketentuan Allah. .
Ada seorang laki laki ditangkap karena mencuri pada zaman Khalifah Umar bin Khathab ra. Lalu ia dibawa menghadap beliau. Lelaki itu ditanya, “Mengapa kamu mencuri?” ia menjawab, “Karena Allah telah mentakdirkan kepada diriku untuk mencuri”. Khalifah Umar ra marah besar mendengar jawaban laki laki tersebut lalu berkata, “Cambuk laki laki ini dengan tiga puluh cambukan lalu potong tangannya.” Laki laki ini terkejut dengan hukuman itu dan lalu bertanya: “Mengapa hukumannya begitu berat?” Umar bin Khattab ra berkata: “Kamu akan dipotong tangan karena mencuri dan dicambuk karena berdusta atas nama Allah.” Maksudnya, manusia diizinkan Allah untuk membuat pilihan dan hal ini adalah sebahagian daripada ketetapan qadha dan qadar.
By Rmd & H B
Pengajian di kediaman Kang Budi Firmansyah (Kang Ede) tgl 14 - 02 - 2015
Pembahasan kembali di Pengajian di kediaman Bang Angga tgl 14 - 03 - 2015
By Rmd & H B
Pengajian di kediaman Kang Budi Firmansyah (Kang Ede) tgl 14 - 02 - 2015
Pembahasan kembali di Pengajian di kediaman Bang Angga tgl 14 - 03 - 2015